Oppie Andaresta: Memelihara Kegelisahan

Di antara banyak musisi perempuan di Indonesia, nama Oppie Andaresta telah menjadi salah satu sosok yang dianggap sebagai penyanyi sekaligus penulis lagu yang berkualitas. Baginya, selain produktif seorang musisi juga harus mampu memberikan energi dan jiwa selama proses penciptaan karya-karyanya.

Oppie Andaresta: Memelihara Kegelisahan

voiceplus.co.id

?>

Lingkungan memberikan pengaruh lebih besar. Jika lingkungan lo tidak dibangun secara benar, maka lo tidak akan menjadi siapa-siapa.

Di antara banyak musisi perempuan di Indonesia, nama Oppie Andaresta telah menjadi salah satu sosok yang dianggap sebagai penyanyi sekaligus penulis lagu yang berkualitas. Baginya, selain produktif seorang musisi juga harus mampu memberikan energi dan jiwa selama proses penciptaan karya-karyanya. Proses inilah yang akan menentukan seberapa kuat penjiwaan sebuah lagu yang bisa dirasakan oleh pendengarnya.

Kemampuan Oppie dalam bermusik mulai terasah sejak ia belia. Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, penyanyi kelahiran 20 Januari 1973 ini rajin mengikuti berbagai festival musik di Jakarta. Dari situ ia mendapat tawaran untuk rekaman single pertamanya di tahun 1990.

Tahun 1993 ia merilis album pertamanya bertajuk Albumnya Oppie yang ia tulis dan produseri sendiri. Setelah itu berturut-turut ia menghasilkan album Bidadari Badung (1995), Kumpulan Lagu-lagunya Oppie Andaresta (1997), Berubah (1998), Hitam ke Putih (2001), Lagu Bagusnya Oppie (2003), dan Dengan Hati Senang (2011). Namanya semakin melejit berkat lagu Cuma Khayalan yang terdapat di album Kumpulan Lagu-lagunya Oppie Andaresta.

Sejak saat itu ia mulai mengambil sikap. Oppie tidak lagi hanya menyanyikan lagu-lagu cinta, tetapi juga mulai memasukkan unsur-unsur kritik sosial di dalamnya. Gang Potlot (markas Slank), lingkungan di mana ia banyak menghabiskan waktu sejak tahun 1991, memberikan pengaruh dalam pembentukan jati diri Oppie sebagai musisi. Di sana ia belajar bagaimana caranya menciptakan lagu dan menulis lirik dengan menganalisa sebuah permasalahan. Kegelisahan-kegelisahan itulah yang ia yakini telah menjadi pemicu bagi dirinya untuk terus berkarya.

Melalui lagu-lagunya ia banyak berbicara tentang permasalahan yang dialami oleh perempuan. Dari mulai isu kekerasan hingga stigma negatif yang melekat di masyarakat. Dalam masa awal karir bermusiknya di era 90-an, Oppie mencoba mendobrak mindset bahwa kecantikan menjadi syarat mutlak bagi seorang perempuan jika ingin berprestasi.  Salah satu lagunya yang berjudul Cantik dan Seksi dengan jelas menunjukkan kritik Oppie terhadap definisi cantik yang didasarkan hanya pada keindahan fisik. Jika diperhatikan, ia selalu menyisipkan lagu-lagu yang bertemakan perempuan di setiap albumnya.

Kini setelah lebih dari 20 tahun menapaki dunia musik, berkeluarga, dan telah menjadi seorang ibu, Oppie masih tetap konsisten berkarya, meski ia mulai mengurangi kadar slengean dalam dirinya. Alam dan anak-anak menjadi fokus yang ia suarakan dalam album terbarunya di tahun 2012. Sekitar pertengahan Februari lalu, VOICE+ berkunjung ke rumahnya di daerah Sawangan, Jawa Barat, untuk berbincang lebih dalam seputar perjalanannya sebagai seorang musisi. Berikut Petikannya.

baca selanjutya di majalah voice edisi 20…..