Budi Doremi: Anak Muda Harus Tahu Sejarahnya

Penampilan dan lagu-lagunya ceria, tapi di baliknya tersimpan kisah yang nestapa. Syahbudin Syukur atau yang lebih dikenal dengan panggilan Budi Doremi, sejak remaja telah pergi meninggalkan kampungnya. Dari satu kota ke kota lain, dari satu komunitas ke komunitas berikutnya.

Budi Doremi: Anak Muda Harus Tahu Sejarahnya

voiceplus.co.id

?>

Penampilan dan lagu-lagunya ceria, tapi di baliknya tersimpan kisah yang nestapa. Syahbudin Syukur atau yang lebih dikenal dengan panggilan Budi Doremi, sejak remaja telah pergi meninggalkan kampungnya. Dari satu kota ke kota lain, dari satu komunitas ke komunitas berikutnya.

Sebelum meledak lewat lagu Do-Re-Mi ia hidup dengan segala keterbatasan. Ngamen dari kafe ke kafe, makan hanya satu hari sekali. Tapi ia merasa itulah yang membuatnya tajam dalam menciptakan lirik. Justru kenyamanan yang ia rasa membuat tumpul dan stagnan.

Selain bermusik, belakangan ia juga akif dalam sejumlah kegiatan kemanusiaan dan lingkungan. Ia terlibat sejumlah konser charity, datang ke lokasi-lokasi bencana, serta terlibat dalam kampanye penyelamatan satwa. Kepada Prima Gumilang, Harris Malikus dan Riki Dior dari VOICE+ ia menceritakan kisahnya. Berikutan petikan perbincangannya.

Bisa ceritakan latar belakang anda menekuni dunia musik?

Dari kecil gue suka musik. Keluarga memang banyak yang seniman. Pemain Gambus, Qori’, Debus. Gue mungkin pengecualian. Dari kelas 3 SMP gue sudah bikin lagu. Lanjut pas SMA. Gue merasa nulis lagu itu merupakan suatu kebutuhan. Gue lahir di Banten, SMA di Lampung. Setahun setelah kelar SMA gue pindah ke Yogyakarta. Di Lampung lah gue mengenal musik lebih dalam. Musik rock dan segala macem genre musik gue kenal di kota itu. Setelah 4 tahun di Lampung, gue hijrah ke Yogyakarta. Merantau, 2 tahun. Di Yogyakarta gue maen di kafe-kafe. Pada waktu itu gue belum berpikir musik bisa jadi penghidupan gue. Pikiran gue cuma pengen merantau dan melihat dunia. Masa seorang lelaki nyalinya cuma sampai depan pagar rumahnya doang? Begitu kira-kira. 2006 gue pindah ke Bandung, lalu 2009 baru gue ke Jakarta.

baca selanjutya di majalah voice edisi 21…..